Asmoni
Asmoni merupakan laki laki yang sudah mapan dalam kesendirian,dia terkenal handal dalam menikmati kesengsaraan, duka, nestapa, dan penindasan. Diapun sudah hafal bagaimana cara menikmati segala bentuk peraturan dan regulasi negara pemerintah atau apalah namanya,-mulai darii yang bersifat mencekik , menginjak sampai menyeret seseorang ke gerbang kecemasan, keputusasaan dan rasa ingin bunuh diri.
Saban hari dia hanya berjalan kaki begitu santai dari trotoar ke trotoar lainnya. Sesekali dia duduk atau tidur siang dimanapun dia suka : semak pinggir jalan, kolong jembatan ,taman kota, pos polisi yang mangkrak, dan lain lain sekitaran jalanan yang dinilainya pantas untuk merebah.
Banyak orang menuduhnya gila, tidak waras, sableng, gangguan kejiwa , kerak kehidupan, dan segala stempel mengerikan lainya. Asamoni jelas dan sangat jelas tidak ada urusan. Dirinya hanya mengalir mendengar apa kata mereka dan tidak menjadikan prihal tersebut beban dalam menajali hari harinya.
Sebelum matari terbit asmoni sudah berdiri di depan kios grobak penjual koran, tabloid dan sejenisnya. Bi dasini pemilik kios sudah mengerti dan hafal kebiasaan asmoni. Maka tidak terbesit dalam pikiran bi dasini rasa takut apalagi risih. Mungkin malah bi dasini ingin sekali mengucaokan terimkasih karena paling tidak asmoni menjaga kiosnya dikala subuh.
Bi dasini memiliki dua buah gelas, satu milik pribadinya dan satunya dia sengaja belikan untuk asmoni. Bi dasini selalu menyeduhkan teh manis panas sebelum membuka grobak kios korannya. Menyeduh satu gelas untuk dirinya dan gelas lain untuk asmoni, jika sedang memiliki rejeki lebih tidak lupa bi dasini menyediakan kretek merah untuk asmoni.
Ketika kios grobag koran d buka asmoni hanya berdiri sambil bergumam. Setelah koran majalah tabloid dan lainnya d susun rapih oleh bi dasini, asmoni mulai mengambil satu koran kesukannya dan kemudian berlalu ke samping kios.
Tepat disamping kios ada runtuhan bekas rumah pejabat pekerja kreta api. Di tempat itulah asmoni biasanya duduk sambil membaca koran favoritnya. Sambil menyeruput satu gelas teh manis panas dan kretek merah yang sudah di siapkan bi dasini.
Bukan hal aneh bagi bi dasini melihat asmoni bergumam bahasa asing yang bi dasini tidak mengerti bahasa apa tersebut. Yang pasti itu bukan bahasa inggris jepang atau china atau apapun itu.
Selsai membaca koran asmoni biasanya mletakan kembali koran ke grobag kios, dengan pasti dia akan menaruh kembali koran ke grobag kios, dia akan meletakan koran ke tempat semula. Tidak lupa asmoni meletakan gelas ke dalam ember belakang kios yang berisi air. Setelah itu asmoni berlalu begitu saja dan melanjutkan rutiasnya d trotoar.
Hanya bi dasini yang menyakini bahwa asmoni itu waras, bahkan mungkin lebih waras ketimbang banyak orang apalagi pejabat teras di kota bi dasini tinggal. Banyak orang menganggap bi dasini pun ketularan gendeng sebab sering meladeni asmoni. Pernah suaru waktu pedagang roko menyindir,
"Bi dasini jangan terllau sering d ladeni asmoni, nanti ketularan gendeng. Ujar pedagang roko cekikikan sambil memberikan kembalian roko pada bi dasini."
"ta apa tertular gendeng seperti asmoni, ketimbang tertular cerdas seperti para anggota dewan yang doyan membodohi orang", 'jawab bi dasini berlalu menuju kiosnya.
Menurut cerita yang beredar asmoni dulunya orang berada, ayahnya pejabat d perusahaan minyak dan ibunya memiliki toko sembako besar di wilayah tersebut. Bahkan ada yg bilang asmoni dulu sempat bersekolah di lurar negeri.
Konon asmoni seorang ahli al jabar atau matematika. Pria idola wanita d zamannya, cerdas dan rupawan. Saking cerdasnya asmoni mendapat beasiswa dan di sarankan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri kala itu.
Belum sempat selesai , di tahun tahun awal indonesia merdeka terjadi pergolakan. Pengambilan kekuasann terjadi kala itu. Dua pemimpin besar bertarung , banyak yang mati tanpa alasan yang jelas apalagi pradilan. Keributan pusat menular ke daerah, kubu pemimpin lama d preteli, d bunuh atau di siksa. Keributan ideologi jadi bumbu, yang berada di kubu lama brati penjara atau mati sekalian. Tidak terkecuali pejabat kota , jika berpaham sama seperti pemimpin lama maka wajib hukumnya disiksa ,penjara atau mati sekalian.
Dampak dari hal tersebut konon Mahasiswa yang berada di luar negeri tidak di perbolehkan pulang. Dianggap sebagai pembangkang kedaulatan dan dihapus dari daftar kewarganegaraan. Asmoni kono adalah satu dari sekian banyak yang berada di luar negeri dikala itu.
Ketika pristiwa itu meletus, entah bagaimana ceritanya asmoni mampu pulang. Ada yang bilang keluarga asmoni di ubu kota banyak orang besar. Ada pula kabar asmoni pulang sebelum pristiwa meletus karena sang ibunda meninggal dunia.
Ta lama dari itu, ayah asmoni menghilang entah kemana. Asmoni jelas tidak paham kemana ayahnya pegi dan tidak juga kunjung pulang. Di jemput seseorang di malam hari, pergi dan hilang begitu sahaja.
Selepas kejadian itu asmoni jauh tenggelam dalam rasa diam. Hari ke hari, mingu ke minggu sampai tahun ke tahun, asmoni semakin larut dalam rasa diamnya. Tenggelam seakan dunia ini tidak membutuhkan perbincangan sama sekali. Hanya bergumam yang tidak dapat di pahami siapapun yang keluar dari bibir asmoni. Dan tak satupun keluaga mampu memahami apa yang terjadi pada asmoni. Tidak juga Sang adik prempuanya, yang kala itu masih sangat kecil.
Kini asmoni nyaris menginjak usia 80 tahunan. Pemimpin sudah berganti sebanyak tujuh kali. Beberapa pristiwa terjadi, beberapa praturan silih berganti, ta ada satupun yang asmoni gentarkan lagi.Asmoni mampu melewatinya dengan diam. Dia telah mengarungi lautan diam, berlayar di keheningan dunianya sendiri. Tanpa sesumbar penderitaan, tanpa mengharap belas kasihan, tanpa takut di injak peraturan tanpa gentar cekik kebijakan , tanpa khawatir di himpit kepentingan , tanpa teriak teriak soal keadilan apalagi risau soal kenaikan harga beras cabai dan bahan bakar.
Asmoni sudah tidak membutuhkan lagi perbincangan, apalagi dialog panjang tuhan dan kemanusian. Bibirnya hanya difungsikan guna gumam ,menyeruput segelas teh panas dan menghisap kretek pemberian bi dasini.

Komentar
Posting Komentar