Aku hendak kemana?

 


Setiap pagi aku sudah  berpakaian rapi lengkap dengan sepatu kulit dan bekas tas laptop yang sebenarnya berisi kertas kertas brosur , tagihan , ijazah dan sejenisnya. Tepat setengah delapan aku berpamitan pada istri anak dan mertuaku. Jarang rasanya aku sarapan pagi, bukan karena tidak lapar, lebih karena aku menghindari perbincangan serius dengan istri dan mertuaku.


Ku sela motor meticku, nyaris tiga tahun acu nya rusak jadilah starter ta berfungsi normal layaknya motor metic. Motor yang lumayan naas, jangankan ganti oli service rutin, mencucinya pun aku terkadang mengandalakan hujan lebat. Warnanya beladus, jepluk orang cirebon bilang. Ta apa yang penting masih mampu berjalan gumamku dalam hati.


Setiap keluar gang rumah, sejujurnya aku bingung hendak kemana. Aku berhenti di pinggir jalan, kuraba kantong hanya tersisa lima ribu rupiah. Kubelikan roko yang sekiranya awet dan dapat lebih dari tiga batang di warunb klontong langganan.


Sering kupandangi langit sambil kutarik nafas panjang, hal ini jelas bukan karena aku terpesona oleh keindahan semesta. Bisa di bilang ini hanya sejenis kebiasaan dalam menghadapi kebingungan. Ku bakar roko sebatang, ku tarik dalam dalam dan kuhembuskan, "setan alas aku sungguh ta paham ini semua.."


Kulihat sepidometer, tampak bensin tinggal satu strip. Nyaris 10 menit aku berkendara belum juga kutemukan arah tujuan. Semua ini sesungguhnya biasa terjadi dalam hari harriku. Setidaknya nyaris tiga tahun belakangan aku menjalani kehidupan dengan selinglung ini. Usiaku nyaris masuk 40 tahunan, lamaran demi lamaran ta ada yang di indahkan.


Empat tahun di bangku kuliah bukan jaminan. Kadang jika ku ingat jangankan aku, beberapa kawan sebaya berakhir di sales, ojek online atau paling tidak jadi lising penagihan. Meski tidak semua, yang berhasil biasanya dia pandai melampaui batas, dia memiliki koneksi di segala arah maka dia kaya melampaui kebanyakan. Tapi mungkin kenyataan memang selalu mendahului keinginan, nasib mungkin mendahului kehendak. Ahhh ini bukan soal keadaan,dan aku ta ingin menyalahkan keadaan.


Kini ku berada di lampu merah, laki laki kecil bertumbuh kurus tubuhnya berwarna silver. Jika kuperhatikan jumbalhnya semakin bertambah dan mungkin nyaris di setiap lampu merah kota cirebon, mereka rela melumuri cat yang entah berbahan dasar apa ke seluruh permukaan kulitnya. Membawa kotak dan berputar meminta minta pada setiap pengendara yang berada di lampu merah. Terkadang aku malu, begitu malu pada mereka yang senekat ini dalam mendapatkan rupiah.



"Sedang aku  , merasa berpendidikan hebat dan mampu berjuang namu serba tumpul dan malu dalam mendulang rupiah. Sedang aku tersinggung jika d bilang ta becus mengurus kekuarga." gumamku dalam hati sambil kuhembus roko murah yang  rasanya sungguh ta karuan


Lampu mulai hijau, aku tarik gas perlahan mengantri mengikuti krumunan kendaraan. Di depan nampak bekas swalayan mangkrak, sempat beberapa kali berganti nama dan kepemilikan tapi entah selalu berakhir dengan gulung tikar.  Padahal Jumblah warga di perumnas cirebon begitu banyak, bahkan dalam 10 tahun trakhir lahan lahan kosong sekitar nyaris d garap komplek hunian bersubsidi. Berbondong bondong semua menyicil rumah,perumnas semakin padat tapi tidak berbanding lurus dengan nasib bekas swalayan yang mangkrak ini. Semakin sepi kosong dan berakhir dengan kenaasan sama sepertiku.


Aku menepi ditrotoar tepat depan swalan mangkrak, cahaya matari menyengat seakan meledeku, mengolok ngolok diriku yang belum punya tujuan. Berharap menemukan kemana arah dan tujuan. Astaga jika ku ingat jaman sekolah, semua seakan mudah seakan terang benderang dan ringan bagai debu debu jalanan. Hari ini aku, di pagi yang entah keberapa kali ini, aku lagi lagi dalam kondisi seperti ini. Dulu aku selinglung ini sebab minuman keras atau kebanyakan hisap gele tapi sekarang ini tanpa miras dan gele sungguh aku linglung dan nyaris berkunang kunang.


Kendaraan melintas di sampingku silih berganti, semua bergerak dengan tegas. Ku lihat setiap orang berkendaraa dengan mata yang lugas, arah dan tujuan yang jelas. Bodoh rasanya jika harus ku teruskan perjalanan tanpa tujuan. Bensin terbuang, uang ta ada, perut lapar dan kepalaku mulai berat. Apa aku kembali pulang? Ahh ta mungkin, mau di bawa kemana mukaku pada istri mertua.


Ku standar motorku, turun dari motor dan duduk d trotoar. Agar ta terlihat gamang, kubakar roko sebatang lagi sambil ku mainkan telphon genggam. Ku lihat wa, kutarik layar lalu kuturunkan lalu kutarik lalu ku turunkan agar orang d sekitar mewajarkan apa yang sedang kulakukan.

Ku cek sisa kuota , habis dan tertulis sisa nol. Kembali ku buka wa, ku lihat beberapa percakapan, kubaca ulang dan nyaris sebagian besar berisi percakapan teman Yang menagih hutang. Gila enatah sudab brapa hutangku pada teman teman, baru kusadari aku bertahan hidup dalam tiga tahun trakhir dengan berhutang uang ke teman yang satu dan teman lainya.


Udara dijalan membantu api membakar rokoku, ta terasa rokoku sebatang nyaris habis. Dan belum kutemukan kemana aku mesti bertandang. Beberapa sahabaat dekat sudah ku satroni dan jelas ku pinjam uang,skrng ta mungkin lagi aku menuju rumah mereka sematara hutang hutangku tempo kamrin belum ku bayar.

Kumasukan telphone genggam ke dalam saku jaketku, kupaksa melanjutkan perjalanan. Biasa sudah ini kulakukan paksa memaksa tanpa tujuan ini, tpi entah mengapa pagi ini aku sangat bosan dan muak.


"samm sammm saamm...kudengar ada yang memanggilku dari kejauhan. "


Kutahan gas, ku lihat sekitar ternyata dia putar arah dan menghampiriku.


"hendak kemana sam?dengan posisi motor tepat di sampingku dia bertanya padaku"


"menepi dulu, ta enak di bdan jalan. Kesana masuk gang perumahan depan. Ujarku padanya agar lebih leluasa berbincang


Kami sama sama dorong motor menuju gapura perumahan ta jauh dari bekas swalan mangkrak. Ku ajak dia bersalaman, basa basi ku mulai


"Sudah lama tida kelihatatan boi, bagaiamana kabarmu? Sehat?" sebuah pertanyaan lumrah , membosankan namun ampuh dalam mengawali perbincangan.


"aku di jakarta sam, berkerja di sana. Sehat sam lalu bagaimana kamu, sehat? Jawaban menimpali yang sudah dapat kutebak namun wajib ku jawab.


"sehat boi,jawabku singkat".


Suasana sebentar hening dan boi mulai mengambil roko dari saku celananya. Menawariku, dan jelas langsung kuiyakan tawarannya. Sambil ku bakar roko  aku bertanya,


"kau dari mana?"


"aku sedang cuti bekerja, tadi dari rumah orang tua" jawab boi dengan mata yang sekaan bahagia bertemu kawan lama.


"orang tuamu sehat boi?"


"sehat sam, bagaimana orang tuamu? Keluarga semua sehat sam?",sam balas bertanya dan pertanyaan balsan yang lagi lagi wajib kujawab


"sehat sam,semua dalam kondisi baik ", Ku jawab boi


"kau hendak kemana sam?bekerja?tanya boi padaku


"........." aku ta bisa menjawab lertanyaan boi seketika, tapi jika ta kujawab malu sungguh rasanya.


"hmm hmmm ke kesambi boi, ada keperluan. Tidak sam aku sedang izin" jawabku spontan.


Sungguh malu rasanya menjadi aku di hari ini, ditanya kemana yang justru akupun sedang bertanya pada diriku hendak kemana di tanya pekerjaan justru aku belum punya pekerjaan. Keringat mengalir di pundaku ,sungguh kurasakan dia menetes jatuh ke sela sela bagian belakang celanaku.


"apa kau masih suka modifikasi motor sam?" Tanya boi padaku


"sudah lama boi tidak hahaha"..ku tegarkan diri dengan tertawa padahal jangan modifikasi bahkan untuk membeli susu anak saja aku kadang ta punya.


"aku kira kau masih hobi modigfikasi motor, dulu ketika sekolah kan saban hari kerjamu ke bengkel ", lanjut boi


"iya boi sekarang sudah tidak ada waktu" lagi lagi ku berbohong. Padahal Justru sekarang aku punya banyak waktu luang, tp persoalanya aku ta punya banyak uang luang.


"sam aku lanjut jalan ya, hendak kuntengok paman dan bibiku diperumnas", ujar boi sambil membuang puntung roko sembarang


"iya boii hati2 salam untuk keluargamu" timpalku padanya


"aku minta no wa mu sam, nanti malam aku ada rencana karokean. Kau mau ikut sam?"


"ini no wa ku, kuberikan tahu no waku pada boi.


"tidak boi malam ini aku ada keperluan", jawabku mengelak karena aku jelas ta punya uang.


Boi berlalu memacu motornya, sebelum pergi ku minta lagi rokonya sebatang. Aku masih ditepi gapura, masih dengan kebingungan yang sama.


"aku hendak kemana?"


Komentar